Artikel

Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Thursday, October 26, 2017

Sanad dan Madrasah Keilmuan Ahlul Bait, dalam Pandangan Ahlusunnah Waljamaah


Oleh : Fauzan Asim

Sanad keilmuan Ahlul Bait hampir semuanya dari jalur Imam Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, diantaranya; Pertama, madrasah tarbiyah Imam karamallahu wajhahu dari jalur muridnya, Sidi Hasan Albashri kepada Sidi Habib Al-ajamy diwariskan kepada Dawud At-thai Qadasallahu Sirrahu diwariskan pada Imam Sarry Assqty qs diwariskan kepada Imam Junaid Al-Baghdadi dan silsilah keilmuan ini terus diwariskan dari masa kemasa, sampai menjadi beberapa madrasah besar dengan sanad bersambung dan yang paling terkenal yang melalui jalur ini adalah Sidi Abdul Qadir Jailany mempunyai madrasah tarbiyah yang dinamakan tariqah qadiriyah, Sidi Ahmad Rifai madrasah tarbiyahnya dinamakan tariqah rifaiyah, dan Sultanul Arifin Syaikhul Akbar Muhyidin Ibnu Araby madrasah tarbiyahnya dinamakan tariqah akbariyah, madrasah ini kebanyakan tersebar di Iraq, Mesir, Syam dan Asia Tenggara.

Kedua, dari sanad keluarga yang terbagi kepada dua kelompok besar; Kelompok pertama, dari jalur Sayidina Hasan bin Ali alaihimassalam diwariskan kepada Sayiduna Jabir bin Abdullah radiyallahu ‘anhu diwariskan pada Sidi Said Alghazwany rahmatullah alaihi diwariskan kepada Abu Muhammad Fath Assuud qadasallahu sirrahu, dan terus diwariskan dari masa kemasa sehingga lahir beberapa madrasah besar dalam tarbiyah ruhaniyah diantara yang paling terkenal adalah qutubuzaman Abi Hasan Asy-syazili madrasah yang beliau dirikan kemudian dikenal sebagai tariqah syaziliyah, diantara tokoh besar dari tariqat ini Sidi Abul Abbas, Sidi Ibnu Athailah Al-askandary, Sidy Muhammad Al-hasyimy (beberapa riwayat Alhasyimi) Ad-dimasyqi, kebanyakan tersebar di Maghrib Araby dan Syam.
Kelompok kedua, dari jalur Sayiduna Husein Radiyallahu ‘anhu diwariskan kepada putra satu-satunya yang selamat dari pembantaian karbala Imam Assujjad Ali Zainal Abidin alahisalamdiwariskan pada anaknya, ada dua anaknya mencapai rutbah imamah dalam keilmuan (disini letak perbedaan sunni dan sebagian syiah, sebagian mazhab syiah menganggap imam berarti maksum sehingga qaulnya jadi hujjah selevel sunnah sedangkan pada mazhab sunni imamah berarti alim mencapai level ijtihad, qaul imam adalah ijthad, sunni mengakui keimaman mereka tapi tidak mengakui kemaksuman imam) dan akhirnya terbagi pada dua mazhab besar;

Pertama Zaid bin Ali alaihisalam, kemudian dikenal dengan madrasah zaidiyah atau lebih dikenal syiah zaidiyah salah satu ciri khasnya adalah uslub muhajajah dengan kezaliman mereka tidak pernah diam karena mengikuti manhaj Imam Zaid dalam menghadapi kazaliman dinasti Umawiyin saat itu. Karena kejelasan sanad keilmuan ini makanya mazhab ini dianggap satu dari 8 mazhab yang diakui dalam piagam Amman (persatuan sunni dan syiah).

Yang kedua, melalui Imam Muhammad Baqir dengan madrasahnya dikenal dengan mazhab baqiriyah, beliau mewariskan mazhabnya kepada Imam Jakfar As-sadiq. Imam Jakfar mempunyai 3 orang anak yang mencapai level imam, diantaranya; Imam Ismail bin Jakfar, kepadanya lah syiah ismailiyah dinisbahkan, dulu sempat menjadi mayoritas syiah dengan dinasti fathimiyahnya, sekarang sedikit sekali yang tersisa di Saudi Arabia, Pakistan, dll, tak banyak yang alim dari mereka, sehingga mazhab fiqh mereka tidak dianggap dalam piagam amman.

Selanjutnya adalah Imam Musa Alkazim, dari jalur inilah lahirnya mazhab jakfariyah yang dinisbahkan kepada ayah dari Imam Musa Al-kazim yaitu Imam Jakfar Ash-shadiq, mereka dikenal dengan mazhab syiah imamiyah atau isna asyarah dengan konsep 12 imam maksum, yang merupakan keturanan dari Imam Musa Alkazim, sampai kepada imam ke 12 yaitu Muhammad Almahdi bin Hasan Al-askary, setelah itu dalam keyakinan imamiyah memasuki masa ghaibubah sughra dengan menghilangnya Imam Mahdi untuk menghindari kezaliman raja (khalifah) saat itu. Akan tetapi mazhabnya tidak hilang, menurut mazhab imamiyah, ilmu Imam Mahdi diwariskan kepada 4 sufara (utusan) yang utama tapi bukan dari ahlul bait mereka yait Usman bin Said, Muhammad bin Usman, Muhammad bin Ruh, Ali bin Muhammad Assamary.

Awalnya mazhab imamiyah terkenal dengan mengambil jalur dialog menghadapi raja yang zalim, namun untuk menhindari tragedi besar, sampai masuk ke periode baru dengan meninggalnya ke 4 safir dinamakan masa ghaibubah kubra, lalu sejalan beriringnya waktu ada satu permasalahan paling banyak didiskusikan dalam mazhab imamiyah, apakah boleh ada imam sebelum imam mahdi keluar dari masa persembunyiannya mereka terpecah menjadi 2 mazhab; Pertama, membolehkan adanya imam ini, yang merupakan cikal bakal konsep wilayatul faqih, yang kemudian dipopulerkan Ayatullah Khomeini dan mazhab ini sekarang adalah mayoritas syiah tapi terbagi dua pertama mereka yang mewajibkannya seperti di Iran. Namun ada juga yang mengatakan boleh itu semata ijtihad seperti Ayatullah Sayyid Al-amin. Kedua, kelompok yang mengatakan tidak boleh sama sekali ada imam sebelum munculnya almahdi. Salah satu yang paling terkenal adalah Marja Ayatullah Syirazi yang saat ini berpusat dilondon.

Sekedar catatan mengapa ulama sunni, dalam piagam amman (persatuan sunni dan syiah) masih menganggap mazhab imamiyah sebagai satu dari 8 mazhab fiqh islami yang diakui dan dianggap sebagai khazanah fiqh islamy, karena mazhab ini mempunyai sanad, terlepas dari perbedaan apakah 4 safir yang meriwayatkan dari Imam Mahdi bin Hasan Al-askary tsiqah atau lemah, mazhab sunni mengatakan lemah, mazhab imamiyah mengatakan kuat, biasa itu dalam dunia keilmuwan perbedaam terhadap penilaian tashih wa tadh’if, tapi terlepas dari perbedaan ini, mazhab ahlussunnah mengakui keberadaan fiqh jakfariyah sebagai satu dari 8 mazhab fiqh islami.

Yang terakhir dari 3 anak Imam Jakfar adalah Imam Ali Uraizy bin Imam Jakfar Ash-shadiq, mazhab ini terus diwariskan salah satu yang terkenal adalah Imam Ali Muhajir, karena hijrahnya beliau dari konflik politik dan menyepi kedaerah Yaman, di daerah Hadramaut. Makanya disana banyak ahlul bait, karena keturunan dari Imam Ali Uraizy, beliau memilih menjauh dari politik berbeda dengan mazhab zaidiyah yang memilih melawan atau baqiriyah yang memilih berdialog, makanya ciri khas madrasah ini dan ulama habaib hadramaut sampai sekarang adalah menjauhi pertikaian politik dan fokus pada pendidikan umat. Ciri khas lain adalah adat memakai pisau (khinjar) dipinggang, karena walaupun sudah menjauh mereka tetap jadi incaran para mulkan adhud (raja zalim) pada masa itu, mereka akhirnya selalu waspada dengan selalu membawa pisau kemanapun mereka pergi, akhirnya menjadi adat, tapi beda dengan madrasah imamiyah dan ismailiyah, madrasah ini beraqidah ahlusunnah wal jamah madrasah imam ali muhajir terus diwariskan dari masa kemasa sehingga muncul madrasah besar dalam tarbiyah ruhiyah diantara yang paling terkenal adalah madrasah Tariqah Ali Ba’lawy yang saat ini tersebar di Asia Tenggara, Yaman dan Hijaz diantara tokoh terkenal adalah Imam Mujadi Alhaddad di Indonesia wirid beliau sangat terkenal dengan nama ratib alhadad, tokoh ternama dizaman ini Habib Umar bin Hafiz, Habib Ali Aljufry, dll.

Dari sini bisa kita liat madrasah yang menisbahkan kepada Ahlulbait yang sanadnya berpusat kepada Imam Ali Karamallahu Wajhahu terpecah menjadi dua bagian sunni dan syiah, kedua mazhab tersebut memiliki sanad dari jalur ahlul bait, dimana syiah kebanyakan menjadi mazhab aqidah dan fiqh (sahih menurut mazhab syiah), sedangkan yang sunni kebanyakan menjadi madrasah pada tazkiyatun nafs atau ilmu hati karena Sayidina Ali terkenal sebagai salah seorang murid Rasulullah paling zuhud dan sudah sepantasnya menjadi Imam para sufi, atau yang biasa lebih dikenal dengan tariqah sufiyah alawiyah, salah satu ciri khasnya adalah zikir dengan lisan dan anggota badan kemudian puncaknya kehati.

Berbeda dengan mazhab lain dalam tazkiyatun nafs, yaitu zikir hati yang puncaknya amal, yang dikenal dengan mazhab shiddiqiyah. Karena dinisbahkan kepada sang kekasih Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Salam yaitu Sayidina Abu Bakar As-shiddiq Radhiyaahu ‘anhu. ilmu tazkiyatun nafs yang beliau dapatkan dari Nabi yang kemudian diturunkan kepada Sayidina Salman Alfarisi Radhiyallahu ‘anhu, dan kemudian diwariskan kepada muridnya yang merupakan salah satu fuqaha sabah Muhammad bin Qasim bin Abu Bakar As-shiddiq Rahmatullah ‘alaih. Ilmu terus diwarisakan dari tsiqah kepada tsiqah sampai kepada Abu Yazid Al-bustami qs selanjutnya thariqah ini lebih dikenal dengan yazidiyah nisbah kepada Abu Yazid, lalu terus di wariskan, banyak madrasah yang muncul dalam mazhab ini dan yang paling terkenal adalah tariqah naqsyabandiyah, nisbah pada Syah Bahaudin Naqsybandy qa, diantara ulama terkenal dalam mazhab ini adalah Mujadid Syah Waliyullah Ad-dahlawi, Syeikh Khalid Naqsyabandy, Syeikh Abdullah Ad-daghestany, Syeikh Ahmad Kuftaro, Syeikh Mula Said Ramadhan Albuty, Syeikh Nazim Alhiqany, Abuya muda wali Alkhalidy, dll, rahmatullah alaihim. Mazhab ini tersebar luas di asia tengah, asia tenggara, anak benua, eropa, rusia, turki, kurdistan, sampai ke Aceh dan banyak daerah lainnya.

Begitulah sanad keilmuan dan madrasah yang dinisbahkan kepada ahlul bait. Ahlul bait bukan milik sekte tertentu tapi milik umat semua islam, semua umat islam wajib mencintai ahlul bait, baik sunni maupun syiah mengambil ilmu dari ahlul bait, dan semua ilmu ahlul bait ujungnya kepada habibi Rasulullah saw. Diajarkan oleh Jibril Alaihis Salam, diwahyukan Rabbul Izzati Azza Wajalla.

Beginilah pandangan ahlusunnah waljamaah, setiap madrasah memiliki sanad dan nama perawi (Syeikh Murabby yang mewarisi ilmunya dari gurunya sampai ke Rasulullah). Hampir setiap orang yang terkenal pada masanya, pasti ada tarjamahnya. Dari sinilah kita bisa menilai siapa, atau madrasah apa, yang kebenaran sampai kepada Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam atau pun sebaliknya. Dari sini pula, para ulama menimbang mazhab dan tariqah yang muktabarah ataupun tidak, jangan dianggap banyaknya madrasah itu merupakan perpecahan umat tapi hanya nisbah kepada sekolah, aku sekolah di sekolah A kamu di B, intinya satu semua dari Allah swt dan semua dari Rasulullah saw. Wallahua’lam

Standar Ulama Dalam Ilmu Aqidah


Oleh : Fauzan

Ilmu Aqidah itu memiliki 8 kitab, dan kitab-kitab tersebut terbagi kedalam beberapa bab, yang membahas apa yang harus diyakini oleh setiap muslim sesuai dengan yang diyakini oleh salaf, yang di dapat langsung dari Nabi Muhammad Shallahu ‘Alaihi Wasallam secara mutawatir melalui sanad-sanad terpercaya.

Kitab pertama adalah kitab ilmu, yang terdiri dari beberapa bab, mulai dari muqadimah kenapa manusia beraqidah, untuk mencari jawaban tanpanya manusia tak akan pernah merasa puas “aku darimana, apa yang harus kulakukan, mau kemana”, lalu apa timbangan benar dan salah?. Timbangannya adalah ilmu, lalu pengertian ilmu dan sejarahnya, lalu apa saja alat yang dipakai untuk mendapatkan ilmu dan dasar pemikirannnya (akal, indra dan kabar dari yang sudah memakai indra), lalu bagaimana menggunakannya, kapan dipakai, dan apa yang bisa dihasilkan dengan memakainya, setelah jelas timbangannya naik ketahap selanjutnya.

Kedua, Kitab ilahiyat (ketuhanan), yang membahas tentang pencarian manusia terhadap asal muasalnya, apakah terjadi dari alam atau ada yang menciptakan, inti pembahasannya adalah apa itu alam dan apa sifat-sifatnya (dikenal dengan maqulat asyarah fi ilmil kalam), lalu apa itu tuhan dan apa sifat-sifatnya.

Ketiga, Kitab ghaibiyat (iman pada malaikat), ini menjawab pertanyaan “sekarang manusia tau darimana berasal, tapi dia tidak tahu apakah ada tugas yang dia lakukan, karena dia tidak jumpa dengan tuhan, apakah ada dunia lain yang tidak kita ketahui?”, disini dibahas tentang keterbatasan indra, lalu pembuktian apakah ada alam lain diluar sana? Kalau ada bagaimana bentuknya? Apakah kita bisa tahu, lalu masuklah pada pembahasan alam ghaib dan alam syahadah.

Keempat, Kitab pembawa kabar (rasul), disini menjawab pertanyaan “kami tau kalau dunia terbagi-bagi, tapi siapa yang memberitahu kepada kami tentang apa yang harus kami lakukan? Dari tuhan sendiri? Atau melalui utusannya? Dari alam ghaib? Atau alam syahadah (materi)?”. Kemudian pertanyaan dimulai dengan pertanyaan adakah tuhan menyampaikam sendiri? Jika tidak ada, maka adakah utusannya? Kalau dari alam ghaib apa saja syarat-syaratnya untuk membuktikan bahwa dia benar utusan tuhan, atau dari alam materi juga sama, mulai pembahasan tentang sifat para utusan dan tanda bukti mereka (mukjizat), lalu bagaimana orang yang memiliki sifat dan tanda mirip itu tapi bukan utusan?

Kelima, Kitab pemberitahuan tugas (risalah/kitab), setelah terbukti ada tuhan dan ada utusannya maka apa yang dibawa utusannya? Siapa saja dalam sejarah yang menjadi utusan, seorang atau banyak? Lalu apa saja risalah yang mereka bawa? Jika utusannya lebih dari seorang, mana yang harus digunakan sekarang? Lalu apa bukti bahwa risalah yang dibawa itu benar-benar masih asli dari para rasul (ulumul quran dan ulumul hadis), lalu bagaimana memahaminya (bahasa arab dan ushul fiqh), dari situ kita akan tahu tugas apa yang harus kita lakukan, posisi para pelindung risalah (sahabat).

Keenam, kitab kemana arah hidup (iman pada hari kiamat), disini agar hidup kita ada tujuan, dan setelah melakukan tugas apakah akan berlalu begitu saja? Apa bedanya yang melakukan tugas atau tidak? Apakah ada akhir dari kehidupan? Kapan itu? Dan apa tanda-tandanya. Mulailah pembahasan tentang dunia sebelum hidup, dunia ketika hidup, dunia setelah hidup dan pembagiannya, mulai dari sekarat, mati, alam barzakh, lalu kiamat, pembagiannya, dari tanda-tanda, lalu penghancuran, kebangkitan, pengumpulan, timbangan, shirath, surga dan neraka.

Ketujuh, Kitab menjawab kenapa harus diciptakan (takdir atau iman kepada qadha wa qadar), jawaban pada pertanyaan kenapa aku harus diciptakan? Lalu kenapa kemudian aku diazab? Apakah tuhan adil menciptakan aku begitu saja? Jawabannya ada disini.

Kedelapan, Penutup kitab iman dan islam, disini pembahasan apa arti iman? Apa arti islam? Siapa yang beriman? Siapa yang tidak? Apakah melanggar risalah bisa menjadikan seorang tidak beriman? Atau ada syarat lain? Atau punya tingkatan dalam pelanggaran, disini diberi tahu apa syarat kafir, siapa fasiq, siapa zindiq, siapa yang menilai? Kelompok apa saja yang ada sejak zaman nabi? Mana yang imannya benar? Mana yang bermasalah? Bagian kitab mana bermasalah? Kelompok mana yang masih islam? Mana yang sudah bukan islam? Mana yang selamat? Apa syaratnya? dan sebagainya.

Itulah 8 kitab utama tentang aqidah islam ahlusunnah wal jamaah, dan itu sudah tertulis bertahun-tahun dan dipelajari mayoritas muslim sejak bertahun-tahun lamanya, dengan pemahaman yang sama jika ada perbedaan tipis saja, tapi tidak keluar dari jalur besar, hingga semua jadi adrt yang jelas disetiap negara muslim, dimana jika melanggarnya berarti melanggar adrt ahlussunnah waljamaah. Di antara kitab-kitab yang sepakati dan kemudian dipelajari oleh jutaan orang juga diwarisi dari jutaan dari masa kemasa adalah kitab matan thahawiyah, matan samasirah, matan sanusiyah, mawaqif, maqasid, matan nasafiyah, iqtisad fil I’tiqad, jauharah, dan pemahaman ulama mayoritas adalah sama, baik di mahzarah syinqit, jami’ah fez dan qairawan maroko, ruwaq dan al azhar mesir, pesantren-pesantren di Indonesia, rubat hijaz dan yaman, kutab afrika dan iran, zawiyah mesjid syam dan iraq, darul ulum di anak benua, ma’had di china dan asia tengah dan rusia, pemahaman mayoritas ulama tentang kitab itu sama.

Jika ada satu dua ulama yang beda pemahamannya, maka akan langsung dikritik dianggap syaz (khusus dalam pendapat itu) tanpa mengingkari keulamaannya, seperti syaznya imam abu zahrah dalam masalah isra’ miraj, syeikh mahmud syaltut dalam masalah karaamah, ibnu taimiyah dalam masalah tajsim, ibnu rusyd dalam qidamnya alam, syeikh muhammad abduh dalam penafsiran akal, mereka semua masih dianggap ulama, bahkan rujukan tapi khusus dalam masalah ini mereka dianggap salah, makanya pendapat mereka tidak pernah bertahan lama dan tidak pernah menjadi mayoritas, mereka yang memahami dan mewarisi dengan mutawatir inilah yang disebut sawadul a’dham, karena terus menjaga aqidah dalam 8 bab ini sejak zaman rasulullah tanpa perubahan. Wallahu a’lam

IKAT Aceh Selesaikan Masalah “Kecil” Berskala Nasional


Pelepasan MABA 2016
Oleh : M. Fadhil Rahmi, Lc

Jika bisa dipermudah untuk apa dipersulit. Begitulah kira-kira pepatah yang pantas diberikan atas usaha yang telah dilakukan IKAT (Ikatan Alumni Timur Tengah) Aceh dalam membantu memudahkan para mahasiswa asal Aceh yang ingin melanjutkan studinya ke Timur Tengah.

Alhamdulillah, pada tahun 2016 dari hasil seleksi penerimaan beasiswa ke Timur Tengah, Aceh mendapat berkah dengan lulusnya 4 orang calon mahasiswa penerima beasiswa Al-Azhar Mesir, dari 20 jatah beasiswa yang diberikan via Kemenag Ri, dan 2 orang lainnya lulus ke Sudan. Sedangkan untuk ke Maroko dan beberapa wilayah lain di Timur Tengah belum ada. Penseleksian tersebut diadakan tersebar di 9 kota diseluruh Indonesia, Kota Banda Aceh Salah satunya. Dan UIN-Ar-Raniry dipercaya sebagai penyelenggara dengan 281 orang peserta, baik dari Aceh maupun dari luar Aceh yang mendaftar secara online.

Dengan tanpa banyak prosedur njelimet, untuk 2 orang duta Aceh yang lulus ke Sudan sudah berangkat sekitar bulan Oktober 2016. Namun, yang menarik untuk diikuti adalah proses “perjalanan” pengurusan pemberangkatan para calon penerima beasiswa yang menuju ke Mesir.

Setelah menunggu berbulan-bulan untuk pengurusan scaning dan screning diberbagai level, akhirnya jelas sudah tanggal pemberangkatan. Dan yg surprise, tiket untuk penerima beasiswa kali ini diberikan secara gratis oleh pihak Universitas Al-Azhar dengan menggunakan penerbangan Oman Air.

Pemberangkatan dibagi 3 Kloter. Kloter pertama sebanyak 44 orang. Khusus dibawah kendali Kemenag RI ada 24 orang, termasuk dua dari Aceh, Rizky Aulia dan Hayatul Rahmi. Yg lain dibawah kendali lembaga lain, sebut saja Gontor, dan lain-lain. Kloter ini berangkat jam 3 siang Wib tanggal 3 Januari 2017. Dan, lancar. Jam 8 malam sampai ke Muscat, Ibukota Oman. sejam setelah itu langsung ke Cairo, Mesir. Tanpa transit terlalu lama. Alhamdulillah infonya selamat sampai tujuan.

Kloter kedua berangkat besok, tanggal 6 Januari 2017 dengan jam yg sama. Sampai di Muscat juga sama seperti sebelumnya. Namun, kali ini transit di Muscat memakan waktu selama 18 jam lebih. Karena filght lanjutan dari Muscat ke Cairo adanya pada hari selanjutnya, 7 Januari 2017 pukul 2.40 siang, dan sampai ke Cairo Int.Airport dijadwalkan Sekitar pukul 17.00 Waktu Cairo.

Sayangnya, transit selama itu no hotel. Tentu ini akan ‘menyiksa’ rombongan calon mahasiswa yg berjumlah 30 orang tsb. Kemenag koordinasi ke berbagai pihak, Azhar, Oman Air dan KBRI Oman. Dgn AlAzhar dan Oman Air hasilnya tetap tidak ada hotel.Alasannya karena tiket One Way. Koordinasi dgn KBRI minta dibantu dan fasilitasi rombongan. Amazingnya, representasi KBRI Oman dalam hal ini adalah putra kebanggaan Aceh, Tgk. Fajar S.Dari diplomat muda asal Lhoknga tersebutlah awal info “transit no hotel” ini saya tahu.

Singkatnya, terjadi komunikasi. Mwnurut Tgk. Fajar, KBRI bisa membantu kalo memang jelas alasan dan valid serta jauh dari unsur-unsur pendhaliman/kecurangan. Artinya, harus dipastikan semua clear dan memang seperti itu aturannya. Hebatnya, untuk memastikan itu, Fajar proaktiv berkomunikasi dan mendatangi Kantor OMan air di Muscat. “Singeh akan loen check langsung bang u Oman Air,”tulis Fajar ke saya via WA malam selasa, tanggal 2 Januari 2017.

Saya yakin semangatnya proaktif Tgk.Fajar bukan karena dia tahu ada 2 camaba asal Aceh (M.Chalil Bisri dan Shidqia Muntadhar) dalam Kloter kedua tersebut. Feeling saya, selain karena bagian sari tugas negara, lebih dr itu karena dia juga alumni Timur Tengah yang pernah merasakan menjadi camaba dan memang dia begitu orangnya, kalagenyan droe..ureng get akai dan cepat respon dan berempati terhadap permasalahan sesama.

Akhirnya, via WA saya (pede) adalah orang pertama yg dikasih tau bahwa bifadhlillah akhirnya rombongan tersebut berhasil diurus untuk mendapat fasilitas hotel dan visa oman gratis selama masa transit. Dan tentu KBRI akan tetap membantu nantinya.

“Lon ban trimong konfirmasi na hotel u camaba. Alhamdulillah,”tulisnya pada jam 12.16 hari Selasa, 3 Januari 2017, dan meminta saya untuk sampaikan ke pihak Kemenag yg kebetulan waktu itu sama-sama sedang si Bandara Soekarno Hatta mengantar Kloter Satu.

“Bang, mungken jeut neupastikan u rombongan tgl 6 nyan, koper check thru ke Cairo atau claim di muscat le. Lbh get check thru, terus camaba persiapkan tas kecil berisi salinan sederhana u siuro dan u berangkat kecairo teuma,”sambungnya.

Dan, semua itu tersampaikan ke pihak Kemenag. Tentu yg mendapat kabar senang dan berterimakasih, utamanya kepada KBRI Muscat, Oman. Saya mendadak jadi Liaison Officer-nya Kemenag dgn KBRI Muscat. Hehe. Semua lega dan plong. Trutama pihak Kemenag yang sangat peduli dgn kemungkinan kondisi “transit no hotel” tersebut.

No Doubt. Tidak untuk mengecilkan dan meremehkan pihak manapun. Semua sudah berbuat, berusaha maksimal. Kebetulan Tgk.Fajar yang mendapat “berkah” sebagai lakon utamanya. Sayapun (merasa) kejipratan dan bangga dengan adik letting saya tersebut hehe. Harapannya, smg semua shilah dan hubungan baik kita secara internal maupun ekternal senantiasa bermanfaat dgn slalu mengharap ridha dan inayah Allah Swt. Itu saja.

Terakhir, kita doakan bersama semoga perjalanan kloter 2 besok lancar dan selamat sampai tujuan. Begitu juga dgn kloter 3 tanggal 8 Januari nanti dimudahkan oleh Allah Swt. Ameen

Kalibata City, 5 Januari 2017.

Wednesday, October 25, 2017

Bolehkah pemimpin muda?


Tgk. H. Fadhil Rahmi, Lc
Disampaikan oleh Tgk. M. Fadhil Rahmi, Lc
Allah berfirman dalam surat Baqarah:
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا ۚ قَالُوا أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ ۖ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Artinya: Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah Telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah Telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.
Ibnu Khaldun memiliki gagasan penting mengenai kriteria yang harus dimiliki seorang pemimpin. Pertama, seorang pemimpin itu harus memiliki ilmu pengetahuan; kedua, pemimpin itu harus berlaku adil dalam setiap keputusannya; ketiga, sehat fisik dan jiwanya serta kemampuan lain yang memadai. Hal tersebut dibenarkan oleh Ibnu Qayyim bahwa dengan menyempurnakan ilmu, maka kepemimpinan dalam agama akan didapatkan. Kepemimpinan dalam agama adalah kekuasaan yang alatnya adalah ilmu. Landasan teologisnya bisa kita pahami dari ayat di atas. Basthatan fi al-‘Ilm wa al-Jism (Keunggulan pada kekuatan ilmu dan fisik). Maka tentu yg paling ideal menurut ayat itu adalah pemuda.
Ashabul kahfi yang dijadikan teladan di dalam quran merupakan pemuda.
{إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا إلى قوله {إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
“Ingatlah ketika para pemuda mencari tempat perlindungan kedalam gua, lalu mereka berdo’a: Wahai Tuhan kami, berilah rahmat kepada kami dari sisiMu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).
Nabi juga menjadi nabi di usia muda. Sekitar 40 tahun umurnya ketika diangkat. Sebelum itu pada usia muda beliau juga telah menjadi pemimpin informal di tengah masyarakat
Juga sabda nabi Beliau:
اغْتَنِمْ خَمْساً قَبْلَ خَمْسٍ شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَفَراغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Pergunakanlah yang lima sebelum datang masa yang lima; Masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa kosongmu sebelum datang masa sibukmu dan masa hidupmu sebelum datang masa kematianmu”. (HR Hakim no 7846).
Dari hadits ini dapat kita simpulkan betapa pentingnya masa muda untuk dipergunakan untuk segala hala yang positif. Karena dimasa muda keadaan tubuh seorang manusia dalam masa yang sangat sempurna dalam segala hal, baik dari segi fisik maupun kekuatan inteligensia, begitu juga dalam hal menghadapi tantangan dan rintangan.


Nabi Ibrahim relatif sangat muda. Perhatikan ayat ini Mereka berkata:
قالوا سمعنا فتى يذكرهم يقال له إبراهيم
“Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim”. (QS. Al-Anbiya’: 60)
Fata merujuk pada usia remaja, biasanya dinisbatkan pada mereka yang berusia 16 atau 18 tahun. Jika dicari relevansinya dengan zaman sekarang, nabi Ibrahim telah mulai bermanuver dakwah pada usia muda.
Nabi Musa dijelaskan dalam surah al-Qashash ayat 14:

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَينَاهُ حُكماً وَعِلماً وَكَذَلِكَ نَجزِي المُحسِنِينَ
“Dan setelah dia (Musa) dewasa (balagha asyuddahu) dan sempurna akalnya, Kami anugerahkan kepadanya hikmah dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik”.
Lafadz balagha asyddahu menunjukkan awal usia baligh, sekitar 15 tahun. Setelah usia itu Musa dikisahkan masuk ke kota Memphis. Dia melihat perkelahian antara dua orang, satu dari Bani Israel dan satu musuhnya (pihak Fir’aun). Musa membantu pihaknya dari Bani Israel dengan meninju musuhnya sampai mati. Singkat cerita, Musa dikejar dan lari ke negeri Madyan. Di negeri ini dia bertemu dengan dua orang perempuan yang kesulitan memberi air minum untuk gembalaannya karena banyak laki-laki sedangkan bapaknya sudah tua renta. Musa menolongnya, setelah itu ia dipanggil bapaknya (Syu’aib). Setelah dialog, Nabi Syu’aib menikahkan Musa dengan salah satu puterinya dengan satu syarat, Musa bekerja pada Syu’aib selama 8 sampai 10 tahun. Musa menyepakatinya.

Dijelaskan dalam ayat 29, setelah Musa menunaikan janjinya ia berangkat dengan keluarganya ke sebuah tempat. Di sebuah lereng gunung ia melihat api, sebagai awal mula dia mendapat wahyu langsung dari Allah. Sejak itulah dia diangkat menjadi Nabi untuk menebarkan dakwah tauhid dan menumbangkan rezim Fir’aun.
Jika dihitung, kapankah Musa menjadi pemimpin perubahan untuk melawan rezim tirani? Sekitar 25 tahun kalau dia bekerja kepada Syu’aib 10 tahun atau 23 tahun jika ia menunaikan janji bekerjanya 8 tahun. Artinya usia awal yang signifikan menjadi pemimpin pergerakan adalah pada usia sekitar 23-25 tahun.
Merujuk pada nabi Musa, untuk menjadi pemimpin perubahan dibutuhkan persiapan kematangan selama 8 sampai 10 tahun sejak baligh. Lebih dari itu proses persemaian kepemimpinannya semakin matang apabila ia memimpin keluarga terlebih dahulu selama 8 sampai 10 tahun.

Pada tahun kesebelas hijriah Rasulullah menurunkan perintah agar menyiapkan bala tentara utk memerangi pasukan Rum. Dalam pasukan itu terdapat antara lain Abu Bakar Shidiq, Umar bin Khattab, Sa’ad bin ABi Waqqas, Abu Ubaidah bin Jarrah, dan lain-lain sahabat yg tua-tua. Rasulullah mengangkat Usamah bin Zaid yg muda remaja menjadi pemimpin ketika ia belum genap 21 tahun.
Adalah Az Zubair bin Awwam. Ia adalah sosok pemuda teman diskusi Rasulullah, anggota pasukan berkuda, tentara yang pemberani, pemimpin dakwah Islam di zamannya dalam usia 15 tahun. Sementara Thalhah bin Ubaidillah, seorang pembesar utama barisan Islam di Makkah, singa podium yang handal, pelindung Nabi saat perang Uhud berkecamuk dengan tujuh puluh luka tusuk tombak, donator utama fii sabilillah, mendapat julukan dari Rasulullah: Thalhah si Pemurah, Thalhah si Dermawan di usianya yang masih sangat muda.
Juga Sa’ad bin Abi Waqash, seorang ksatria berkuda Muslimin paling berani di saat usianya baru menginjak 17 tahun. Ia dikenal sebagai pemanah terbaik, sahabat utama yang pertama kali mengalirkan darahnya untuk Islam, lelaki yang disebut Rasulullah sebagai penduduk surga.
Zaid bin Tsabit, mendaftar jihad fii sabilillah sejak usia 13 tahun, pemuda jenius mahir baca-tulis. Hingga Rasulullah bersabda memberi perintah: “Wahai Zaid, tulislah….”. Ia mendapat tugas maha berat, menghimpun wahyu, di usia 21 tahun.

Muhammad Al-Fatih menaklukkan dunia sebagai pemimpin terbaik dengan pasukan yang terbaik pula pada usia 23 tahun.
Sulaiman (Sulaiman The Magnificient) menjadi sultan daulah Utsmaniyyah saat usianya 26 tahun. Harun Ar-Rasyid pemimpin imperium raksasa yang meliputi benua Asia, Afrika, dan Eropa saat usianya 22 tahun. Al-Amin, anaknya, menjadi pemimpin pasukan militer di Khurasan saat usianya 11 tahun. Di usianya yang belia dia meraih kemenangan.
Maka pemuda hari ini harus memantaskan diri menjadi pemimpin. Karena pemimpin itu merupakan amanah.
Penjabaran peran pemuda di dalam menjalani kehidupan secara gamblang tertuang dalam sejalan dengan tiga surat lainnya di dalam Al qur’an. Yakni Maryam, Yusuf dan Luqman. Surat-suart tersebut menjelaskan bagaimana sebenarnya peran pemuda dalam menjalani kehidupan ini dengan cara yang benar. Surat Luqman mngejawantahkan bagaimana menjadi hamba yang beriman secara umum baik bagi wanita maupun pria. Sedangkan Yusuf, lebih menekankan pedoman bagi manusia khususnya generasi muda pria bagaimana cara menghadapi kerasnya zaman. Sedangkan Maryam lebih menekankan kesucian diri yang mesti dimiliki oleh setiap kaum wanita Islam.
اغتنم خمسا قبل خمس: “شبابك قبل هرمك، وصحتك قبل سقمك، وغناك قبل فقرك، وفراغك قبل شغلك، وحياتك قبل موتك”.

Riwayat hakim dalam mustadrak