Thursday, October 26, 2017

Ramadhan Qur’ani Camp II Bersama IKAT Aceh


IKAT (Ikatan Alumni Timur Tengah) Aceh bekerja sama dgn unsyiah, pemko Banda Aceh dan BKPP Aceh. akan mengadakan Ramadhan Quranic Camp II dari 5 s.d 13 Ramadhan 1436 H ( 9 – 18 juni) dengan 3 gelombang: ‌
gelombang pertama tinggat SD kelas 3-6 ‌
gelombang ke dua tinggat smp dan sma ‌
gelombang ke tiga: mahasiswa dan umum.

Program:
Intensif Belajar Fasih membaca Al-quran bersama totur bersanat sampai ke rasulullah.
Full pembentukan karakter qurani.
Taraweh dan tahajud dengan hafiz lulusan timur tengah
Evaluasi setiap pertemuan.
Jumpa tokoh inspiratif.
Dll

Fasilitas :
‌Modul panduan membaca alqurani. ‌
10 orang / kelompok ‌
full AC ‌
sahur dan infar bersama dengan menu sehat dan bergizi + snack malam hari. ‌
tempat nyaman dan adem untuk mengaji ‌program intensif dan ekslusif ‌sertifikat dari tutor bersanad sampai ke Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam.

Waktu Pendaftaran:
15 may – 1 juni .

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hub :
Tgk. M.yasin jumadi,Lc (+6285370926106 )
Tgk. Muammar Zainun (0812-7028-2827 )
Tgk. Ahmad syukran ( 0822-7471-9454)
Tgk.Zakiah Zainun (081263154631)

Daftar via sms:
Ketik: nama (spasi) jenjang pendidkian (Spasi) jenis kelamin.
Kirem ke nomor kontak diatas.
Peserta terbatas.

Atau kunjungi group fb :
Ramadhan Quranic Camp IKAT Aceh.
Infaq : Rp. 250.000.-

Marhaban ya Ramadhan, Sambut Ramadhan IKAT Aceh Kampanyekan “Cinta Al-Qur’an”


Marhaban ya Ramadhan, Marhaban ya Syahrul Qur’an. Menyambut bulan suci Ramadhan 1437 H yang tidak lama lagi, Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh akan melakukan kampanye “Cinta Al-Qur’an” dengan cara road show ke sekolah-sekolah dan perguruan tinggi yang ada disekitar Banda Aceh dan Aceh Besar.
13177433_10204553958487560_4792368832552174951_n
“IKAT akan mengadakan “Program Kampanye Cinta Al-Qur’an”. Sekarang kita sudah menyebarkan selebaran kesekolah-sekolah, perguruan tinggi dan mesjid yang ada dikawasan Banda Aceh dan Aceh Besar. Khusus untuk sekolah-sekolah kita akan mengirim utusan yang akan memaparkan tentang pentingnya kedudukan Al-Qur’an dan perlunya melakukan kegiatan yang positif selama bulan ramadhan, sehingga tidak sia-sia,” ungkap Ketua IKAT Aceh M. Fadhil Rahmi Lc, Jum’at, 20/5/2016.
Bulan Ramadhan merupakan bulan Al-Qur’an, oleh karena itu hendaknya seorang muslim dapat memberikan perhatian yang lebih terhadap Al-Qu’ran dalam bulan ini. Mengenai keutamaan membaca Alquran Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Faathir: 29-30)
Selain mengkampanyekan ” Cinta Al-Quran ini, para utusan IKAT juga akan mensosialisasikan kegiatan Ramadhan Qur’ani Camp yang bekerjasama dengan Pemko Kota Banda Aceh, Unsyiah dan BKPP Aceh dan akan dilaksanakan sejak awal ramadhan nantinya, tambah M. Fadhil Rahmi

IKAT Adakan Doa Bersama untuk Aleppo


Menyikapi konflik berkepanjangan yang terjadi di Aleppo, Suriah, Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh menggelar doa bersama untuk Aleppo yang di pimpin oleh Tgk. Mubashirullah, Lc, MA, Sabtu (31/12) siang, di Sekretariat IKAT Aceh, Lamgugop, Banda Aceh.

M Fadhil Rahmi, Lc mengatakan, pada acara yang dirangkaikan dengan peringatan maulid nabi tersebut juga turut di hadiri oleh para undangan dari luar anggota IKAT dan tokoh desa Lamgugop , selain sebagai ajang silaturrahmi keluarga besar IKAT Aceh antar generasi.

Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan peusijuek (menepungtawari-red) calon mahasiswa yang akan melanjutkan studinya ke sejumlah negera di Timur Tengah, yang di pimpin oleh salah seorang Dewan Penasehat IKAT Aceh, Prof. Dr. Alyasa Abu Bakar, MA.

Beliau mengajak Calon Mahasiswa asal Aceh yang akan berangkat ke Timur Tengah untuk mempersipkan diri sebaik mungkin, disana mahasiswa dituntut untuk belajar yang sungguh. Beliau menambahkan,”Disana mudah mendapatkan pustaka dan kitab-kitab yang dibutuhkan, gunakan kesempatan itu sebaik mungkin”.

Para calon Mahasiswa tersebut juga dipeusijuek oleh ulama Aceh, Prof. DR. Tgk. Muslim Ibrahim, MA, Prof. DR. Azman Ismail, MA, Walikota Banda Aceh non aktif, Hj. Illiza Saaduddin Jamal, SE dan sesepuh IKAT lainnya.

IKAT Aceh Selesaikan Masalah “Kecil” Berskala Nasional


Pelepasan MABA 2016
Oleh : M. Fadhil Rahmi, Lc

Jika bisa dipermudah untuk apa dipersulit. Begitulah kira-kira pepatah yang pantas diberikan atas usaha yang telah dilakukan IKAT (Ikatan Alumni Timur Tengah) Aceh dalam membantu memudahkan para mahasiswa asal Aceh yang ingin melanjutkan studinya ke Timur Tengah.

Alhamdulillah, pada tahun 2016 dari hasil seleksi penerimaan beasiswa ke Timur Tengah, Aceh mendapat berkah dengan lulusnya 4 orang calon mahasiswa penerima beasiswa Al-Azhar Mesir, dari 20 jatah beasiswa yang diberikan via Kemenag Ri, dan 2 orang lainnya lulus ke Sudan. Sedangkan untuk ke Maroko dan beberapa wilayah lain di Timur Tengah belum ada. Penseleksian tersebut diadakan tersebar di 9 kota diseluruh Indonesia, Kota Banda Aceh Salah satunya. Dan UIN-Ar-Raniry dipercaya sebagai penyelenggara dengan 281 orang peserta, baik dari Aceh maupun dari luar Aceh yang mendaftar secara online.

Dengan tanpa banyak prosedur njelimet, untuk 2 orang duta Aceh yang lulus ke Sudan sudah berangkat sekitar bulan Oktober 2016. Namun, yang menarik untuk diikuti adalah proses “perjalanan” pengurusan pemberangkatan para calon penerima beasiswa yang menuju ke Mesir.

Setelah menunggu berbulan-bulan untuk pengurusan scaning dan screning diberbagai level, akhirnya jelas sudah tanggal pemberangkatan. Dan yg surprise, tiket untuk penerima beasiswa kali ini diberikan secara gratis oleh pihak Universitas Al-Azhar dengan menggunakan penerbangan Oman Air.

Pemberangkatan dibagi 3 Kloter. Kloter pertama sebanyak 44 orang. Khusus dibawah kendali Kemenag RI ada 24 orang, termasuk dua dari Aceh, Rizky Aulia dan Hayatul Rahmi. Yg lain dibawah kendali lembaga lain, sebut saja Gontor, dan lain-lain. Kloter ini berangkat jam 3 siang Wib tanggal 3 Januari 2017. Dan, lancar. Jam 8 malam sampai ke Muscat, Ibukota Oman. sejam setelah itu langsung ke Cairo, Mesir. Tanpa transit terlalu lama. Alhamdulillah infonya selamat sampai tujuan.

Kloter kedua berangkat besok, tanggal 6 Januari 2017 dengan jam yg sama. Sampai di Muscat juga sama seperti sebelumnya. Namun, kali ini transit di Muscat memakan waktu selama 18 jam lebih. Karena filght lanjutan dari Muscat ke Cairo adanya pada hari selanjutnya, 7 Januari 2017 pukul 2.40 siang, dan sampai ke Cairo Int.Airport dijadwalkan Sekitar pukul 17.00 Waktu Cairo.

Sayangnya, transit selama itu no hotel. Tentu ini akan ‘menyiksa’ rombongan calon mahasiswa yg berjumlah 30 orang tsb. Kemenag koordinasi ke berbagai pihak, Azhar, Oman Air dan KBRI Oman. Dgn AlAzhar dan Oman Air hasilnya tetap tidak ada hotel.Alasannya karena tiket One Way. Koordinasi dgn KBRI minta dibantu dan fasilitasi rombongan. Amazingnya, representasi KBRI Oman dalam hal ini adalah putra kebanggaan Aceh, Tgk. Fajar S.Dari diplomat muda asal Lhoknga tersebutlah awal info “transit no hotel” ini saya tahu.

Singkatnya, terjadi komunikasi. Mwnurut Tgk. Fajar, KBRI bisa membantu kalo memang jelas alasan dan valid serta jauh dari unsur-unsur pendhaliman/kecurangan. Artinya, harus dipastikan semua clear dan memang seperti itu aturannya. Hebatnya, untuk memastikan itu, Fajar proaktiv berkomunikasi dan mendatangi Kantor OMan air di Muscat. “Singeh akan loen check langsung bang u Oman Air,”tulis Fajar ke saya via WA malam selasa, tanggal 2 Januari 2017.

Saya yakin semangatnya proaktif Tgk.Fajar bukan karena dia tahu ada 2 camaba asal Aceh (M.Chalil Bisri dan Shidqia Muntadhar) dalam Kloter kedua tersebut. Feeling saya, selain karena bagian sari tugas negara, lebih dr itu karena dia juga alumni Timur Tengah yang pernah merasakan menjadi camaba dan memang dia begitu orangnya, kalagenyan droe..ureng get akai dan cepat respon dan berempati terhadap permasalahan sesama.

Akhirnya, via WA saya (pede) adalah orang pertama yg dikasih tau bahwa bifadhlillah akhirnya rombongan tersebut berhasil diurus untuk mendapat fasilitas hotel dan visa oman gratis selama masa transit. Dan tentu KBRI akan tetap membantu nantinya.

“Lon ban trimong konfirmasi na hotel u camaba. Alhamdulillah,”tulisnya pada jam 12.16 hari Selasa, 3 Januari 2017, dan meminta saya untuk sampaikan ke pihak Kemenag yg kebetulan waktu itu sama-sama sedang si Bandara Soekarno Hatta mengantar Kloter Satu.

“Bang, mungken jeut neupastikan u rombongan tgl 6 nyan, koper check thru ke Cairo atau claim di muscat le. Lbh get check thru, terus camaba persiapkan tas kecil berisi salinan sederhana u siuro dan u berangkat kecairo teuma,”sambungnya.

Dan, semua itu tersampaikan ke pihak Kemenag. Tentu yg mendapat kabar senang dan berterimakasih, utamanya kepada KBRI Muscat, Oman. Saya mendadak jadi Liaison Officer-nya Kemenag dgn KBRI Muscat. Hehe. Semua lega dan plong. Trutama pihak Kemenag yang sangat peduli dgn kemungkinan kondisi “transit no hotel” tersebut.

No Doubt. Tidak untuk mengecilkan dan meremehkan pihak manapun. Semua sudah berbuat, berusaha maksimal. Kebetulan Tgk.Fajar yang mendapat “berkah” sebagai lakon utamanya. Sayapun (merasa) kejipratan dan bangga dengan adik letting saya tersebut hehe. Harapannya, smg semua shilah dan hubungan baik kita secara internal maupun ekternal senantiasa bermanfaat dgn slalu mengharap ridha dan inayah Allah Swt. Itu saja.

Terakhir, kita doakan bersama semoga perjalanan kloter 2 besok lancar dan selamat sampai tujuan. Begitu juga dgn kloter 3 tanggal 8 Januari nanti dimudahkan oleh Allah Swt. Ameen

Kalibata City, 5 Januari 2017.

Wednesday, October 25, 2017

Mulai 2017, Agara Siapkan Beasiswa ke Timur Tengah



Terhitung mulai dari tahun 2017 secara resmi Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara akan memberikan beasiswa jenjang S1 ke Timur Tengah kepada 5 putra/putri terbaiknya. Informasi ini diperoleh dari Tgk. Alimuddin Selian, Lc, MA selaku ketua IKAT (Ikatan Alumni Timur Tengah) Kabupaten Aceh Tenggara melalui message yang dikirimnya kepada ketua IKAT Aceh,Tgk. M. Fadhil Rahmi, Lc, pada 5/01/2017.

Pemberian beasiswa ini merupakan tindak lanjut dari apa yang pernah disampaikan oleh Wakil Bupati Aceh Tenggara H.Ali Basrah, S.Pd, MM. saat pelantikan pengurus IKAT Aceh Tenggara, dimana sebagai salah satu program Pemerintah Kabupaten dalam bidang pendidikan terutama pendidikan agama untuk peningkatan pengajar dan penceramah sehingga bisa mencapai sampai ke pelosok wilayah kabupaten Aceh Tenggara.

Pelaksanaan seleksi untuk penerima beasiswa ini akan dilaksanakan pada Maret 2017. Ujar Tgk. Alimuddin kepada Tgk. M. Fadhil Rahmi. Untuk konsep dan teknis pelaksanaan seleksi beasiswa ini, Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara akan bekerja sama dengan IKAT melalui IKAT Aceh Tenggara, tambahnya.

Disisi lain, M. Fadhil Rahmi menambahkan, langkah positif yang diambil oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara ini sangatlah baik, seharusnya dapat diikuti oleh Kab/Kota lain di Aceh.

Saiful Bahri Pimpin IKAT (Ikatan Alumni Timur Tengah) Wilayah Lhokseumawe


Nama Saiful Bahri ditetapkan sebagai Ketua Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Wilayah Lhokseumawe dalam Musyawarah wilayah yang dihadiri oleh anggota IKAT Lhokseumawe dan juga turut dihadiri oleh ketua IKAT Aceh yang didampingi oleh beberapa pengurus dari Banda Aceh. Penetapan Saiful dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW hari Ahad, (22/1) lalu di Kota Lhokseumawe.

Informasi ini disampaikan oleh Ketua IKAT Aceh, Muhammad Fadhil Rahmi, Lc di Sekretariat IKAT Aceh di Gampong Lamgugop, Banda Aceh, Rabu, 25/1/2017.

Dalam musyawarah pemilihan Ketua IKAT Wilayah Lhokseumawe yang dihadiri oleh lebih kurang 40 peserta anggota Ikat seputaran Kota Lhokseumawe tersebut mencuat 3 kandidat calon ketua, Tgk. Muhammad Saleh, Tgk. Dedy Sukma dan Tgk. Saiful Bahri.

Dalam kesempatan itu, Tgk M. Fadhil Rahmi tidak lupa mengucapkan ucapan selamat kepada Tgk. Saiful beserta pengurus yang ditetapkan dalam musyawarah wilayah Kota Lhokseumawe, diantaranya tgk. Muhammad Saleh sebagai wakil ketua, dan Tgk. Dedy Sukma sebagai sekretaris.

Dalam acara tersebut dilanjutkan sambutan singkat dari ketua IKAT wilayah Lhokseumawe terpilih, Tgk. Saiful Bahri dan menyatakan akan berusaha menghidupkan IKAT Lhokseumawe dan melakukan konsolidasi antar anggota.

“Kita akan hiasi berbagai kegiatan IKAT di Kota Lhokseumawe, “ujar Saiful.

Ketua IKAT Aceh berharap dengan terpilih Saiful sebagai Ketua, Mampu berkonstribusi positif untuk lhokseumawe trutama dalam bidang dakwah, pendidikan dan sosial kemasyarakatan.

Seminar IKAT Aceh: Menakar Kiprah Alumni Timur Tengah Aceh


Banda Aceh – Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh menggelar Seminar Pendidikan bertajuk Menakar Kiprah Alumni Timur Tengah Aceh, Minggu, (05/02/1017) di Aula Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Pelaksanaan seminar Pendidikan ini merupakan sebagai bentuk evaluasi sejauh mana kiprah alumni Timur Tengah (IKAT) selama ini. Seminar yang dilaksanakan juga turut dihadiri oleh pemateri Nasional dan Ulama Aceh, Demikianlah yang disampaikan Ketua Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh, Muhammad Fadhil Rahmi, Lc. Dalam sambutannya.

Selain itu, ia juga menyampaikan banyaknya hal yang telah dilakukan IKAT, namun proses yang dilakukan selama ini belum jelas dan terukur.

“Selama ini banyak hal telah kita lakukan, baik pengabdian sosial, dakwah dan bahkan menjadi mitra Pemerintah dalam beberapa kegiatan, akan tetapi tentu itu semua belum tertakar dengan jelas tentang format bentuk kontribusi para alumni Timur Tengah. selama ini belum ada road map pengabdian yang tepat sasaran dan terukur”.ujar Fadhil.

Selain itu ia mengharapkan betul sinergi dari semua pihak. Baik secara moril maupun materil, untuk melaksanakan kegiatan ini dengan tujuan penanaman nilai agama secara subtansial kepada masyarakat. Terutama kepada masyarakat-masyarakat awam dan terpelajar

Ia mengharapkan, dengan adanya diselenggarakan kegiatan seminar itu, dapat mengukur sejauh mana peran dan konstribusi alumni ikat Aceh dalam mengevaluasi semua.

Seminar yang mengangkat tema Menakar Kiprah Alumni Timur Tengah tersebut diisi oleh tiga pemateri, diantaranya :
1. Dr. Muchlis M. Hanafi, MA. (Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Balitbang dan Diklat Kementerian Agama);
2. Tgk. H. Muhammad Yusuf Abdul Wahab (Pimpinan Dayah Babussalam Al-Aziziyah Jeunib-Bireuen dan Ketua I HUDA); dan
3. DR. Ajidar Matsyah, Lc. MA. (Dosen UIN Ar-Raniry).

Disamping itu, Dr. Ajidar Matsyah,Lc.,MA menyampaikan dalam materinya, bahwa alumni timur tengah ada di berbagai lini dan sudah ada sejak dulu.

“Alumni perlu merperbanyak kiprah di berbagai sisi, apalagi di bagian Dakwah, karena memang ini sudah menjadi domainnya”. Tegasnya

Ia juga mengharapkan dan menekankan bahwa alumni timur tengah harus benar-benar mendalami dan menjiwai keagamaan secara mendalam. karenanya tambahnya, hal tersebut merupakan suatu kewajiban bagi umat muslim, khususnya ikat.

Tgk. H. Muhammad Yusuf Abdul Wahab. Atau yang sering dipanggil To Sop mengemukakan bahwa setiap manusia ummat Wahidah. Dimana kita mempunyai 2 kelemahan; dimana yang satu lemah dalam mengorganisir menjadi kekuatan kolektif, serta mudah dan gampang dipengaruhi oleh orang lain.

“Memang era global erat kaitannya dengan era neokolonialisasi, dimana mengeksploitasi yang lemah. kita jangan seperti domba yang ada di kandang macan. Kita bertarung sesama kita, padahal kalah menang tetap akan dimangsa macan”. Ungkap beliau dengan senyum khasnya.

apa saja yg membuat kita bisa menyatu? Tambahnya, yang pertama Jangan menang dengan saudara sendiri tapi kalah di depan orang lain. Jago kandang.
Kedua, Membuat perencanaan, jika kita tidak merencanakan kita akan direncanakan.

Sebagai penuntut ilmu, manusia menjadikannya sebagai jalan dan jembatan bagi dirinya sendiri. Namun ada sebagian menempatkannya dengan ketidak adilan “ilmu bukan sumber kegaduhan dan kesombongan. Tapi ilmu sumber kedamaian. jangan menjadi manusia yang eklusif “.

akhlak butuh lingkungan. Jangan sampai kita hidup di tengah lingkungan yang gagal akhlak.

Sedangkan Mukhlis hanafi memaparkan bahwa azhar itu merupakan metode. Bukan sekedar institusi, masyikhah bukan sekedar kantor administrasi, namun menjaga keseimbangan.

Prinsip al azhar yg harus dikedepankan:

.لا معادة بين مقتضيات الشرع والقضايا العصر
-الحفظ على القادم الصالح
– التسامح والتنوع

tidak tergesa-gesa dalam mengambil sikap akidah takfir. Peran pemikiran lulusan Al-Azhar. Menjadi Da’i yang wasathi. Berpijak dengan pemikiran yang jernih. Pandai membaca zaman.

Kegiatan tersebut sekaligus melaunching agenda prioritas IKATt tahun 2017. Agenda utamanya adalah: ToT Tahsin, Pelatihan Mawaris, Sosialisasi Pendidikan Timur Tengah dan Kaligrafi. Yang dihadiri ratusan peserta serta masyarakat umum.

IKAT AGARA Buka Pendaftaran Beasiswa


IKATACEH.ORG | Kutacane – Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh Tenggara, secara resmi membuka pendaftaran beasiswa untuk melanjutkan pendidikan sarjana s1 ke Universitas Al-Azhar Kairo-Mesir. Informasi pendaftaran diperoleh dari Ust. Ilham Sujefri, Lc., ketua panitia seleksi via telepon yang diterima Tgk. T. Tasqa Alaidin, Lc. di sekretariat IKAT Aceh Jum’at sore (03/02/2017).
Waktu pendaftaran lanjut Ilham, mulai tanggal 1 Februari s.d 20 Februari 2017, dan jadwal testing dilaksanakan pada Sabtu, 26 Februari 2017 di Aula MAN Kutacane.
Mengenai syarat-syarat pendaftaran sambung Ilham, pertama membayar uang pendaftaran sebesar Rp. 100.000, kedua foto kopi Kartu Keluarga (KK), ketiga foto kopi KTP bagi yang sudah punya, keempat foto kopi rapor mulai kelas 1 s.d 3 Aliyah/sederajat, kelima foto kopi Ijazah (Surat keterangan dari sekolah/pesantren), keenam Ijazah tidak boleh lewat dari 1 (satu) tahun.
Adapun tempat pendaftaran jelasnya, Pendaftar bisa menghubungi atau datang ke salah satu tempat di bawah ini:
1. Dinas Syari’at Islam mulai pukul 08:00–14:00 WIB, hubungi Ust. H. Alimuddin, Lc, MA. (+6281360165234);
2. Masjid Taqwa mulai pukul 14:00-21:00 WIB, hubungi Ust. Anwar Efendi, Lc. (+6285360637472);
3. STAISES mulai pukul 15:00-18:00 WIB, hubungi Ust. Sahiful Anwar, MA. (+6285275600806), Ust. Syukran, Lc. MA (+6285361928991).
Untuk info lebih lanjut, calon penerima beasiswa bisa menghubungi langsung Ust. Ilham Sujefri, Lc. (Telpon/WA +6285358659207), Ust. Muhammad Khairudin Jamil, Lc (+6281337503038), Ust. Rahmoy Alaspi Agara, Lc. Dpl. (+6282304535043), tutup Ilham.
Seperti diberitakan sebelumnya, mulai tahun 2017 Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara akan memberikan beasiswa jenjang s1 ke Timur Tengah kepada 5 putra-putri terbaiknya. (TSQ)

Pengumuman Seleksi Beasiswa Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara Oleh IKAT Aceh


IKAT ALA ABAS
Banda Aceh – Ikatan Alumni Timur Tengah Aceh (IKAT) pada Minggu (26/2/2017) telah melaksanakan penyeleksian terhadap 20 peserta calon penerima beasiswa dari Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Proses seleksi dilakukan di komplek Dinas Syariah Islam Kabupaten Aceh Tenggara atas kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara dengan IKAT Aceh sebagai tindak lanjut dari apa yang disampaikan oleh Tgk. Alimuddin Selian, Lc. MA pada bulan lalu, ujar ketua IKAT Aceh Tgk. M. Fadhil Rahmi, Lc.

Disebutkannya, pelaksanaan seleksi yang dilakukan saat ini hanya menjaring lima calon penerima beasiswa. kelima calon penerima beasiswa Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara yang lulus ini nantinya akan mengikuti bimbingan teknis khusus di sekretariat IKAT Aceh di Banda Aceh sebelum keberangkatan ke Mesir.

Hasil seleksi telah diumumkan oleh tim penyeleksi dari IKAT Aceh tadi malam. Selanjutnya, bagi peserta yang telah dinyatakan LULUS dan tercantum dalam lampiran keputusan yang dikeluarkan oleh tim penguji akan dijadwalkan untuk segera mengikuti bimbingan teknis seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, lanjut M. Fadhil.

Direncanakan, kelima penerima yang telah dinyatakan lulus tersebut akan diberikan beasiswa keberangkatan dari Pemkab Agara melalui Dinas Pendidikan & Kebudayaan pada September mendatang.

Bolehkah pemimpin muda?


Tgk. H. Fadhil Rahmi, Lc
Disampaikan oleh Tgk. M. Fadhil Rahmi, Lc
Allah berfirman dalam surat Baqarah:
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا ۚ قَالُوا أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ ۖ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Artinya: Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah Telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah Telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.
Ibnu Khaldun memiliki gagasan penting mengenai kriteria yang harus dimiliki seorang pemimpin. Pertama, seorang pemimpin itu harus memiliki ilmu pengetahuan; kedua, pemimpin itu harus berlaku adil dalam setiap keputusannya; ketiga, sehat fisik dan jiwanya serta kemampuan lain yang memadai. Hal tersebut dibenarkan oleh Ibnu Qayyim bahwa dengan menyempurnakan ilmu, maka kepemimpinan dalam agama akan didapatkan. Kepemimpinan dalam agama adalah kekuasaan yang alatnya adalah ilmu. Landasan teologisnya bisa kita pahami dari ayat di atas. Basthatan fi al-‘Ilm wa al-Jism (Keunggulan pada kekuatan ilmu dan fisik). Maka tentu yg paling ideal menurut ayat itu adalah pemuda.
Ashabul kahfi yang dijadikan teladan di dalam quran merupakan pemuda.
{إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا إلى قوله {إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
“Ingatlah ketika para pemuda mencari tempat perlindungan kedalam gua, lalu mereka berdo’a: Wahai Tuhan kami, berilah rahmat kepada kami dari sisiMu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).
Nabi juga menjadi nabi di usia muda. Sekitar 40 tahun umurnya ketika diangkat. Sebelum itu pada usia muda beliau juga telah menjadi pemimpin informal di tengah masyarakat
Juga sabda nabi Beliau:
اغْتَنِمْ خَمْساً قَبْلَ خَمْسٍ شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَفَراغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Pergunakanlah yang lima sebelum datang masa yang lima; Masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa kosongmu sebelum datang masa sibukmu dan masa hidupmu sebelum datang masa kematianmu”. (HR Hakim no 7846).
Dari hadits ini dapat kita simpulkan betapa pentingnya masa muda untuk dipergunakan untuk segala hala yang positif. Karena dimasa muda keadaan tubuh seorang manusia dalam masa yang sangat sempurna dalam segala hal, baik dari segi fisik maupun kekuatan inteligensia, begitu juga dalam hal menghadapi tantangan dan rintangan.


Nabi Ibrahim relatif sangat muda. Perhatikan ayat ini Mereka berkata:
قالوا سمعنا فتى يذكرهم يقال له إبراهيم
“Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim”. (QS. Al-Anbiya’: 60)
Fata merujuk pada usia remaja, biasanya dinisbatkan pada mereka yang berusia 16 atau 18 tahun. Jika dicari relevansinya dengan zaman sekarang, nabi Ibrahim telah mulai bermanuver dakwah pada usia muda.
Nabi Musa dijelaskan dalam surah al-Qashash ayat 14:

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَينَاهُ حُكماً وَعِلماً وَكَذَلِكَ نَجزِي المُحسِنِينَ
“Dan setelah dia (Musa) dewasa (balagha asyuddahu) dan sempurna akalnya, Kami anugerahkan kepadanya hikmah dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik”.
Lafadz balagha asyddahu menunjukkan awal usia baligh, sekitar 15 tahun. Setelah usia itu Musa dikisahkan masuk ke kota Memphis. Dia melihat perkelahian antara dua orang, satu dari Bani Israel dan satu musuhnya (pihak Fir’aun). Musa membantu pihaknya dari Bani Israel dengan meninju musuhnya sampai mati. Singkat cerita, Musa dikejar dan lari ke negeri Madyan. Di negeri ini dia bertemu dengan dua orang perempuan yang kesulitan memberi air minum untuk gembalaannya karena banyak laki-laki sedangkan bapaknya sudah tua renta. Musa menolongnya, setelah itu ia dipanggil bapaknya (Syu’aib). Setelah dialog, Nabi Syu’aib menikahkan Musa dengan salah satu puterinya dengan satu syarat, Musa bekerja pada Syu’aib selama 8 sampai 10 tahun. Musa menyepakatinya.

Dijelaskan dalam ayat 29, setelah Musa menunaikan janjinya ia berangkat dengan keluarganya ke sebuah tempat. Di sebuah lereng gunung ia melihat api, sebagai awal mula dia mendapat wahyu langsung dari Allah. Sejak itulah dia diangkat menjadi Nabi untuk menebarkan dakwah tauhid dan menumbangkan rezim Fir’aun.
Jika dihitung, kapankah Musa menjadi pemimpin perubahan untuk melawan rezim tirani? Sekitar 25 tahun kalau dia bekerja kepada Syu’aib 10 tahun atau 23 tahun jika ia menunaikan janji bekerjanya 8 tahun. Artinya usia awal yang signifikan menjadi pemimpin pergerakan adalah pada usia sekitar 23-25 tahun.
Merujuk pada nabi Musa, untuk menjadi pemimpin perubahan dibutuhkan persiapan kematangan selama 8 sampai 10 tahun sejak baligh. Lebih dari itu proses persemaian kepemimpinannya semakin matang apabila ia memimpin keluarga terlebih dahulu selama 8 sampai 10 tahun.

Pada tahun kesebelas hijriah Rasulullah menurunkan perintah agar menyiapkan bala tentara utk memerangi pasukan Rum. Dalam pasukan itu terdapat antara lain Abu Bakar Shidiq, Umar bin Khattab, Sa’ad bin ABi Waqqas, Abu Ubaidah bin Jarrah, dan lain-lain sahabat yg tua-tua. Rasulullah mengangkat Usamah bin Zaid yg muda remaja menjadi pemimpin ketika ia belum genap 21 tahun.
Adalah Az Zubair bin Awwam. Ia adalah sosok pemuda teman diskusi Rasulullah, anggota pasukan berkuda, tentara yang pemberani, pemimpin dakwah Islam di zamannya dalam usia 15 tahun. Sementara Thalhah bin Ubaidillah, seorang pembesar utama barisan Islam di Makkah, singa podium yang handal, pelindung Nabi saat perang Uhud berkecamuk dengan tujuh puluh luka tusuk tombak, donator utama fii sabilillah, mendapat julukan dari Rasulullah: Thalhah si Pemurah, Thalhah si Dermawan di usianya yang masih sangat muda.
Juga Sa’ad bin Abi Waqash, seorang ksatria berkuda Muslimin paling berani di saat usianya baru menginjak 17 tahun. Ia dikenal sebagai pemanah terbaik, sahabat utama yang pertama kali mengalirkan darahnya untuk Islam, lelaki yang disebut Rasulullah sebagai penduduk surga.
Zaid bin Tsabit, mendaftar jihad fii sabilillah sejak usia 13 tahun, pemuda jenius mahir baca-tulis. Hingga Rasulullah bersabda memberi perintah: “Wahai Zaid, tulislah….”. Ia mendapat tugas maha berat, menghimpun wahyu, di usia 21 tahun.

Muhammad Al-Fatih menaklukkan dunia sebagai pemimpin terbaik dengan pasukan yang terbaik pula pada usia 23 tahun.
Sulaiman (Sulaiman The Magnificient) menjadi sultan daulah Utsmaniyyah saat usianya 26 tahun. Harun Ar-Rasyid pemimpin imperium raksasa yang meliputi benua Asia, Afrika, dan Eropa saat usianya 22 tahun. Al-Amin, anaknya, menjadi pemimpin pasukan militer di Khurasan saat usianya 11 tahun. Di usianya yang belia dia meraih kemenangan.
Maka pemuda hari ini harus memantaskan diri menjadi pemimpin. Karena pemimpin itu merupakan amanah.
Penjabaran peran pemuda di dalam menjalani kehidupan secara gamblang tertuang dalam sejalan dengan tiga surat lainnya di dalam Al qur’an. Yakni Maryam, Yusuf dan Luqman. Surat-suart tersebut menjelaskan bagaimana sebenarnya peran pemuda dalam menjalani kehidupan ini dengan cara yang benar. Surat Luqman mngejawantahkan bagaimana menjadi hamba yang beriman secara umum baik bagi wanita maupun pria. Sedangkan Yusuf, lebih menekankan pedoman bagi manusia khususnya generasi muda pria bagaimana cara menghadapi kerasnya zaman. Sedangkan Maryam lebih menekankan kesucian diri yang mesti dimiliki oleh setiap kaum wanita Islam.
اغتنم خمسا قبل خمس: “شبابك قبل هرمك، وصحتك قبل سقمك، وغناك قبل فقرك، وفراغك قبل شغلك، وحياتك قبل موتك”.

Riwayat hakim dalam mustadrak